Tradisi melinting rokok sendiri sebenarnya sudah ada sejak lama di Indonesia, terutama di daerah-daerah penghasil tembakau. Namun istilah tingwe mulai populer dalam beberapa tahun terakhir seiring maraknya tren ini di kalangan perokok urban.
Sejarah tingwe tidak bisa dilepaskan dari perkembangan industri tembakau di Indonesia yang sudah berlangsung sejak era kolonial. Pada masa itu, melinting rokok sendiri adalah hal yang umum dilakukan karena rokok pabrikan belum banyak tersedia. Petani tembakau dan masyarakat biasa meracik sendiri campuran tembakau untuk dikonsumsi.
Seiring berkembangnya industri rokok pada awal abad ke-20, kebiasaan melinting sendiri mulai tergantikan oleh rokok pabrikan yang lebih praktis. Namun di daerah-daerah tertentu, tradisi ini tetap bertahan terutama di kalangan petani dan masyarakat ekonomi menengah ke bawah.
Fenomena tingwe kembali marak dalam 5-10 tahun terakhir, dipicu oleh beberapa faktor:
- Kenaikan harga rokok akibat cukai yang terus meningkat
- Kesadaran untuk berhemat di masa pandemi Covid-19
- Tren gaya hidup kembali ke tradisional
- Munculnya komunitas-komunitas pecinta tingwe
- Kemudahan mendapatkan bahan baku tingwe secara online
Saat ini, tingwe tidak lagi identik dengan kebiasaan orang desa atau kalangan bawah. Justru banyak anak muda urban yang menjadikan tingwe sebagai gaya hidup dan hobi. Komunitas-komunitas tingwe bermunculan di kota-kota besar, lengkap dengan acara gathering dan kompetisi melinting.
Perkembangan ini membuat industri pendukung tingwe juga tumbuh, mulai dari produsen tembakau iris, importir kertas papir, hingga alat-alat pendukung seperti linting machine. Fenomena tingwe pun kini menjadi bagian dari subkultur urban di Indonesia.